Upload foto otoskopi, dapatkan klasifikasi AI dalam hitungan detik. Triase berbasis urgency untuk keputusan rujukan yang lebih cepat dan konsisten.
Drag & drop gambar, atau klik untuk pilih
Format: JPG, PNG — Maks 10MB
OtoskopiAI adalah alat bantu skrining AI yang dirancang untuk mendukung pengambilan keputusan klinis oleh tenaga kesehatan profesional, BUKAN untuk diagnosis final. Semua rekomendasi rujukan memerlukan review dan persetujuan klinis oleh tenaga kesehatan. Alat ini tidak menggantikan penilaian spesialis.
Dari upload gambar hingga rekomendasi rujukan — semua dalam hitungan detik.
Ambil foto dari otoskop atau upload gambar existing. Sistem menerima JPG dan PNG.
Model AI menganalisis gambar dan mengklasifikasikan ke Normal, Cerumen, atau Perforasi.
Sistem menentukan tingkat urgensi dan menyiapkan formulir rujukan otomatis ke dokter THT.
Setiap hasil klasifikasi dipetakan ke tingkat urgensi dengan action spesifik.
Membran timpani normal. Tidak memerlukan rujukan — edukasi kebersihan telinga dan hindari penggunaan cotton bud.
Serumen menutupi membran timpani. Konsultasi ke dokter umum atau puskesmas dalam 3 hari untuk pembersihan serumen.
Perforasi membran timpani terdeteksi. Rujuk ke dokter spesialis THT untuk evaluasi dan tatalaksana — jaga telinga tetap kering.
Paralisis wajah, vertigo, sakit kepala hebat, atau penurunan kesadaran. Komplikasi intrakranial harus disingkirkan segera.
Fitur yang dirancang khusus untuk tenaga kesehatan di fasilitas primer.
Hasil klasifikasi dalam 2-3 detik. Tidak perlu GPU — berjalan ringan di server standar.
Setiap prediksi dilengkapi confidence score untuk transparansi keputusan klinis.
Penjelasan transparan: analisis gambar, korelasi klinis, dan panduan berdasarkan PNPK OMSK 2018.
Berfungsi di desktop dan tablet klinik. Interface bersih untuk tenaga non-teknis.
Klasifikasi citra diproses self-hosted di server sendiri & tidak disimpan permanen. Untuk interpretasi klinis, citra dikirim ke API Claude (Anthropic).
Kode sumber terbuka di GitHub untuk review, kontribusi, dan transparansi metodologi AI.
Menjembatani kesenjangan akses spesialis THT di fasilitas kesehatan primer Indonesia.
Indonesia memiliki lebih dari 10.000 klinik pratama yang beroperasi setiap hari. Sebagian besar klinik ini — khususnya di daerah non-metropolitan — tidak memiliki dokter spesialis THT. Kondisi telinga seperti serumen impaksi dan perforasi membran timpani merupakan keluhan yang sangat umum, namun penanganannya memerlukan keahlian interpretasi otoskopi yang tidak dimiliki sebagian besar tenaga kesehatan di klinik primer.
Perforasi membran timpani adalah kondisi darurat yang sering terlewatkan sebagai kasus rutin. Keterlambatan penanganan berisiko menyebabkan gangguan pendengaran permanen, kolesteatoma, atau komplikasi intrakranial. Sementara itu, keputusan rujukan bergantung sepenuhnya pada individu — tidak ada standarisasi, kasus gawat tidak diprioritaskan, dan antrian di poli THT tidak terkelola dengan baik.
OtoskopiAI hadir sebagai alat bantu skrining untuk membantu tenaga kesehatan membuat keputusan triase yang lebih cepat, lebih konsisten, dan lebih aman. Sistem ini mengklasifikasikan citra otoskopi dan secara otomatis menentukan tingkat urgensi — dari kasus ringan yang cukup diedukasi, hingga kasus darurat yang perlu dirujuk segera ke dokter spesialis THT.
Platform ini menjawab kebutuhan nyata ribuan klinik di Indonesia yang beroperasi tanpa spesialis THT — membantu tenaga kesehatan membuat keputusan triase yang lebih cepat, lebih konsisten, dan lebih aman.
Dengan satu foto otoskopi dan beberapa detik, perawat di klinik terpencil bisa mendapatkan second opinion berbasis AI dan formulir rujukan yang siap dikirim ke dokter THT terdekat.
Upload gambar otoskopi pertama Anda dan lihat hasilnya dalam hitungan detik.
Mulai ScreeningOtoskopiAI adalah alat bantu skrining AI yang dirancang untuk mendukung pengambilan keputusan klinis oleh tenaga kesehatan profesional, BUKAN untuk diagnosis final. Semua rekomendasi rujukan memerlukan review dan persetujuan klinis oleh tenaga kesehatan. Alat ini tidak menggantikan penilaian spesialis.
Meskipun AI dapat mengklasifikasi gambar, implementasi klinik tetap menempatkan manusia di pusat pengambilan keputusan: